Liputan6.com, Jakarta :

mbah suripMbah Surip 60 tahun, meninggal dunia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pusdikkes TNI AD, Kramat Jati, Jakarta Timur. Jenazah Mbah Surip tiba di RS Pusdikkes pukul 10.30 WIB, dan ditangani dr. Tias. Hingga kini belum diketahui pasti penyebab meninggalnya Mbah Surip. Menurut Martina Omega bagian reka medik RS Pudikkes, jenazah Mbah Surip sempat berada selama satu jam di RS Pusdikkes. Jenazah kemudian langsung dibawa pulang oleh kerabat yang membawanya yaitu pelawak Mamik. Sebelumnya, pada hari Minggu malam (2/8), Mbah Surip sempat pingsan akibat kelelahan setelah pentas di Yogyakarta. Mbah Surip kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, memang sedang laris manis setelah lagu “Tak Gendong” menjadi populer di masyarakat. Pria bernama asli Urip Ariyanto ini memang fenomenal. Lagu “Tak Gendong” yang sederhana justru mampu mengubah kehidupan Mbah Surip dari musisi jalanan menjadi miliarder. Keberuntungan Mbah Surip bukan hanya dari penjualan nada sambung, ia juga dikontrak sebuah rumah produksi untuk membintangi sinetron dengan honor Rp 5-25 juta per episode. Hingga kini, penyanyi berambut gimbal tersebut masih mengontrak sebuah rumah sederhana di Kampung Artis, Cipinang, Jakarta Timur.

Liputan6.com, Jakarta :

090704bmbah-mendalamMbah Surip bukan pendatang baru di dunia musik. Lagu Tak Gendong, yang kini membuatnya sangat terkenal, telah ia ciptakan di tahun 1990-an. Menurut Al Moenir Rahmat, produser eksekutif Playlist SCTV, yang juga teman akrab Mbah Surip, Tak Gendong diciptakan di sebuah warung kopi di Pulau Belitung. Informasi ini berbeda dengan informasi yang beredar di media, yaitu bahwa lagu Tak Gendong, diciptakan di Amerika Serikat tahun 1983.

Dilihat dari penampilannya, banyak yang tidak menyangka Mbah Surip sempat mengenyam pendidikan tinggi. Ternyata, Mbah Surip, adalah peraih gelar Drs, Insinyur, hingga MBA. Dengan keahliannya, berbagai profesi telah ia tekuni, antara lain pengeboran minyak, dan pertambangan berlian. Ia pernah bekerja di Kanada, Texas, Yordania.
“Menghentikan semburan lumpur Lapindo itu mudah. Tutup saja dengan sagu, maka dengan sendirinya lumpur di sana membeku,” papar Mbah Surip kepada rekannya Al Moenir. Mungkin dia tengah becanda, sebab Mbah Surip selama ini memang suka becanda. Bahkan, dia lebih sering tertawa terbahak-bahak (suara tawanya khas) dibanding bicara jika ia ditanya mengenai sesuatu.

Pria yang bernama asli Urip Ariyanto lahir di Mojokerto, 5 Mei 1949 adalah duda dengan empat orang anak sekaligus kakek dari empat cucu. Keempat anaknya tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia memilih meninggalkan pekerjaan yang bisa memberikannya uang banyak, kemudian beralih menjadi pemusik jalanan. Tidak hanya profesi, Mbah Surip pun mengubah penampilannya menjadi nyentrik ala pemusik reggae sejak tahun 1998. Sebelum sampai pada ketenaran dan kesuksesan seperti belakangan ini, ia sempat hidup menggelandang dan kekurangan.

Kini, miliaran uang telah ia dapatkan melalui penjualan RBT hanya dalam tiga bulan. Hidupnya pun langsuang berubah 180 derajat. Bayangkan dalam sebulan, jutaan orang menggunakan lagu Tak Gendong sebagai RBT (ring back tone atau nada tunggu di telepon genggam). Dengan jumlah seperti itu, diperkirakan Mbah Surip mendapat keuntungan sekitar Rp 4,5 miliar. Bahkan ada yanga menghitung angkanya jauh lebih besar lagi. Luar biasa!

Mbah Surip sempat bercita-cita membeli 3 buah helikopter rongsokan. Ketiga helikopter tersebut nantinya akan di tempatkan di halaman cafe yang akan ia dirikan. Tujuannya, agar anak-anak kecil bisa bermain-main di atas helikopter. Informasi lainnya yang beredar, Mbah Surip ingin membeli helikopter agar bisa berkeliling dengan cepat ke berbagai daerah di Indonesia.

Namun, belum juga keinginan itu terwujud, Mbah Surip telah tiada. Moto hidupnya sangat sederhana : Jangan makan yang nggak kamu sukai dan bergaullah dengan orang yang kamu sukai. (DIO)

Selamat jalan Mbah Surip.

Diskografi Mbah Surip :

Ijo Royo-Royo (1997)
Indonesia I (1998)
Reformasi (1998)
Tak Gendong (2003)
Barang Baru (2004)